$type=slider$snippet=hide$cate=0$meta=0$show=home

NU DAN KOMITMEN KEBANGSAAN

Bagikan :



 
Muhamad Mustaqim

Martin Van Bruinessen, seorang peneliti Islam Indonesia asal Belanda dalam sebuah diskusi pernah menganggap Nahdhotul Ulama (NU) sebagai organisasi yang unik. Hal ini karena NU hanya diikuti oleh orang-orang Indonesia. Padahal NU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia – bahkan dunia, namun hanya memiliki anggota dari orang Indonesia. Jikalau ada anggota NU yang dari luar negeri, itupun adalah orang  Indonesia yang tinggal di sana.
Argumentasi Martin ini sebenarnya menegaskan bahwa NU adalah Indonesia. Keberhasilan NU merepresentasikan Islam Indonesia sebagai Islam yang ramah dan toleran adalah sebuah kearifan kebangsaan. Pada titik ini, NU tidak pernah menancapkan ideologinya di kancah internasional, sebagaimana kemunculan ideologi trans-nasional yang akhir-akhir ini marak. Sebagai organisasi terbesar di Negara berpenduduk Muslim terbesar, NU tidak serta merta kemudian menjalarkan hegemoninya ke berbagai pelosok dunia. Hal ini barangkali dilandasi oleh prinsip kebangsaan yang teguh, dalam membangun keberagamaan yang membumi di Indonesia.
Sejak awal, NU merupakan jamiyaah ijtimaiyyah yang membangun gerakan keagamaan pada level yang paling bawah, masyarakat. Jika kita kembali menengok sejarah, kelahiran NU tidak lain karena keprihatinan akan upaya penghapusan kearifan lokal dalam keberagamaan masyarakat. Pada level internasional, Komite Hijaz diinisiasi sebagai upaya untuk melindungi kepentingan bersama ummat Islam dari ancaman gerakan puritanisme di Saudi Arabia. Sehingga NU sebagai gerakan sosial kemasyarakatan berupaya “menyelamatkan” tradisi pribumi yang menjadi cara beragama masyarakat di Indonesia.

Politik Kebangsaan NU
Ada beberapa bukti sejarah, yang bisa diajukan sebagai argumentasi tentang politik kebangsaan NU ini. Pertama, Penetapan Dar al Islam. Dalam muktamar XI tahun 1938 di Banjarmasin, NU memutuskan bahwa Negara dan tanah air wajib dijaga menurut fiqih. Argumentasi yang digunakan, wilayah Nusantara, khususnya tanah Jawa pernah dikuasai sepenuhnya oleh ummat Islam melalui kerajaan-kerajaan Islam.
Kedua, resolusi jihad. Resolusi jihad merupakan maklumat yang disampakan NU kepada warganya untuk berjihad, berperang mengusir kedatangan Inggris di bumi Indonesia yang nota bene sudah memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka.  Konsep dasar isi resolusi jihad adalah fardlu 'ain bagi setiap orang yang berada dalam radius 94 km dari episentrum pendudukan penjajah, untuk berjihad melawan penjajah.
Resolusi jihad mempunyai dampak yang besar bagi gerakan perlawanan terhadap Inggris di Surabaya. Puncaknya adalah tanggal 10 November 1945, yakni terjadi pertempuran super dasyat antara santri dan arek Surabaya melawan militer Inggris. Momentum besar tersebut sampai saat ini kemudian diabadikan sebagai hari pahlawan.
Ketiga, nasionalisme Piagam Jakarta. Piagam Jakarta, yang saat ini termanifestasi dalam Pembukaan UUD 1945, sebenarnya telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam dasar teologi Negara Indonesia. Hal ini karena, dalam naskah Piagam Djakarta yang asli, terdapat tujuh kata yang menjadi kontroversi dan perdebatan para founding father kita, yakni Ketuhanan yang Maha Esa dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya.
Dalam catatan Andree Feilard (1999), NU mempunyai andil besar dalam penghapusan tujuh kata “islami” dalam Piagam Jakarta. Hal ini dilatar belakangi oleh perdebatan sengit antara kelompok Islamis dengan para kaum Kristen dan sekuler dari Indonesia Timur. Jalan tengah ini akhirnya melahirkan kesepakatan secara win-win solution, di mana penghapusan tujuh kata dianggap kelompok Timur menghilangkan dominasi agama tertentu, namun bagi Kelompok Islam terminologi maha Esa tetap menjadi bagia dari dasar Negara. Dihapuskannya tujuh kata dalam Piagam Jakarta sekali lagi menunjukkan komitmen kebangsaan para pendiri bangsa dalam merayakan perbedaan. 
Keempat, penerimaan asas tunggal Pancasila. Pada tahun 1983, Orde Baru melalui rezim Soeharto pernah memberlakukan asas tunggal Pancasila. Konsepsi asas tunggal Pancasila ini meniscayakan agar seluruh organisasi sosial kemasyarakatan harus menempatkan Pancasila sebagai dasar organisasinya. Tidak sedikit ormas Islam yang menolak kebijakan tersebut, karena kebanyakan dari ormas ini menempatkan Islam ssebagai dasar dan asas organisasi.
Dalam hiruk pikuk kebijakan asas tunggal ini, NU secara tegas menyatakan siap menerima asas tunggal ini. Dan dalam konteks ini, NU merupakan organisasi Islam pertama yang menerima berlakunya asas tunggal tersebut (al-Zastrow, 1999: 30). Dalam Muktamar NU 1984 di Situbondo, diputuskan penerimaan Pancasila sebagai asa tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menjelang satu abad kelahiran NU ini, kiranya menjadi catatan menarik ketika kita meletakkan NU dalam kerangka kebangsaan. Sebesar dan sehebat apapun NU, ia adalah milik Indonesia. Tidak terbersit sedikitpun bagi NU untuk melebarkan sayap ideologi, menjadi gerakan trans-nasional yang bisa melingkupi semua negara bangsa. Karena NU akan selalu bangga menjadi Indonesia dan menjaga nusantara. Indonesia adalah rumah bagi warga nahdhiyin yang harus senantiasa dirawat, dihias dan dilestarikan. Upaya merusak dan merubuhkan “rumah” bersama bernama Indonesia, akan senantiasa berhadapan dengan NU dan elemen pemilik rumah lainnya.
Penulis adalah Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Demak.

KOMENTAR

Nama

Agenda,6,Agenda Rutin,2,Bahtsul Masail,3,Bangil,1,Banser,16,Berantas Karaoke,2,Cadar,1,cerpen,1,Dokumentasi,8,Ekonomi,2,Felix,1,Gus Dur,3,Gus Mus,2,Hari Pahlawan,1,Hari Santri Nasional,2,Hikmah,5,HTI,4,Humor,2,Islam Dunia,1,ISNU,2,Israel,1,Jokowi,1,Ke-Ansor-an,1,Ke-NU-an,2,kebangsaan,1,Kedutaan Israel,1,KH Sya'roni Ahmadi,2,KH. Said Aqil Siradj,2,Khilafah,1,Lowongan Kerja,1,Muamalah,1,Muslimat NU,1,Nahdlotul Ulama,1,NU,1,Opini,3,PBNU,1,Peristiwa,5,Pilihan,34,PKD dan Diklatsar,1,Pustaka,1,RSI NU Demak,1,sawah,1,Sejarah,3,Tausiyah,2,Terorisme,2,Tokoh,6,Tradisi,3,Ubudiyah,3,Video,1,Warta Lokal,17,Warta Nasional,7,Yahudi,1,
ltr
item
ANSOR PAC Karanganyar: NU DAN KOMITMEN KEBANGSAAN
NU DAN KOMITMEN KEBANGSAAN
https://2.bp.blogspot.com/-Thze5hOzZ6I/WoJClC1Jf4I/AAAAAAAALdU/bQI1jl2P4OYFB9zVRwoXRcsmLK7HXCEtACLcBGAs/s200/FB_IMG_1518485730037.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-Thze5hOzZ6I/WoJClC1Jf4I/AAAAAAAALdU/bQI1jl2P4OYFB9zVRwoXRcsmLK7HXCEtACLcBGAs/s72-c/FB_IMG_1518485730037.jpg
ANSOR PAC Karanganyar
https://www.ansorpackaranganyar.org/2018/02/nu-dan-komitmen-kebangsaan.html
https://www.ansorpackaranganyar.org/
https://www.ansorpackaranganyar.org/
https://www.ansorpackaranganyar.org/2018/02/nu-dan-komitmen-kebangsaan.html
true
110494691151744641
UTF-8
Semua postingan ditampilkan Postingan tidak ditemukan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Membalas Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan Lihat Semua Mungkin anda menyukai postingan ini LABEL ARSIP SEARCH SEMUA POSTINGAN Postingan yang sesuai tidak ditemukan Kembali ke Beranda Ahad Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Ahd Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Sekarang 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 bulan yang lalu Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah terkopi ke komputer/gadget Tidak dapat mengkopi kode atau teks. selahkan pencet tombol [CTRL]+[C] (atau CMD+C untuk Mac) untuk mengnyalin