$type=slider$snippet=hide$cate=0$meta=0$show=home

Pesan Singkat Untuk Warga Nahdhiyyin dalam Pelantikan MWC NU Karanganyar Demak

Bagikan :

Prosesi Pelantikan MWC NU Karanganyar Demak
Demak- Majlis Wakil Cabang (MWC) NU Karanganyar Demak menyelenggarakan pelantikan pengurus masa khidmah periode 2017-2022 di Masjid Kauman Barat Desa Cangkring B, Ahad (25/03). Pengurus terpilih yaitu KH. Moh. Machun Sa'idi, S.Pd.I sebagai Rois Syuriyah dan  H. Anshori, S.Ag., MH. sebagai Ketua Tanfidziyyah. Pelantikan dihadiri oleh Kepala Desa Cangkring, perwakilan dari PCNU Demak, banom NU Karanganyar yang terdiri dari perwakilan ranting NU se-Kecamatan Karanganyar, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat, IPNU-IPPNU, Pergunu dan MUSPIKA Karanganyar serta tamu undangan.
PCNU Demak yang diwakili oleh Dr. H. Abdurrahman Kasdi, Lc., M.S.I dan Choiri, S.Ag. bertugas melantik pengurus MWC NU Karanganyar yang baru. Ketua PCNU Demak, KH. Aminuddin Mas’udi, berhalangan hadir karena sedang menghadiri kegiatan Bahtsul Masail PCNU Demak yang diselenggarakan di MWC NU Karangawen.

Penyerahan SK oleh PCNU Demak
Penduduk Kecamatan Karanganyar mayoritas adalah NU. Ini disampaikan oleh  H. Anshori, S.Ag., MH. dalam sambutannya pasca pelantikan, bahwa 90 % warga Kecamatan Karanganyar adalah NU,  sedangankan 10% lainnya terdapat lembaga Muhammadiyyah, LDII dan non Islam. Dalam sambutannya beliau juga mewanti-wanti warga NU agar berpegang teguh pada dawuh atau perkataan para pendiri NU yaitu KH. Hasyim Asy'ari dan KHR. Asnawi. KH. Hasyim Asy'ari menyebutkan "Seng sopo wonge gelem ngrumati NU mongko tak dadekno santriku, seng sopo wonge dadi santriku mongko tak dongakno husnul khotimah" sedangkan KHR. Asnawi menyebutkan "Hidupilah NU, jangan hidup di NU".
 
Sedangkan Dr. H. Abdurrahman Kasdi, Lc. M.S.I berpesan agar warga NU tidak gumunan/mudah heran terhadap segala sesuatu yang terjadi saat ini.  Warga NU diharapkan dapat menanggapi segala sesuatu dengan bijaksana dan selalu megikuti prinsip NU moderat yang berpegang teguh pada konsep tri ukhuwah, yang meliputi ukhuwah islamiyyah (persaudaraan seagama), wathaniyyah (persaudaraan setanah air) dan basyariyyah (persaudaraan sesama manusia). Dari tri ukhuwah ini diharapkan warga NU dapat berperan aktif dalam menciptakan keamanan dan ketentraman sehingga dapat terwujud baldatun thayyibatun.

Dr. H. Abdurrahman Kasdi, Lc. M.S.I juga menyinggung opini yang beredar di kalangan masyarakat luas, terkait hancurnya negara Indonesia pada tahun 2030. Dengan masih diselenggarakannya pelantikan NU, beliau optimis bahwa Indonesia akan selalu jaya dengan eksistensi NU. Melihat fakta sejarah, NU lahir jauh sebelum NKRI terbentuk tepatnya pada tahun 1926 M. Jadi, NU memiliki peran penting atas terealisasinya kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, selama NU masih hidup NKRI akan selalu berdiri kokoh dalam peta dunia.

*NKRI HARGA MATI* 
   
Penulis: Taufikul Lutfi Rois (Kabid Keagamaan dan Idiologi PAC GP Ansor Karanganyar).